Oleh Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ENTAH sampai kapan negeri ini terus mempertontonkan ironi yang melelahkan. Kita menyaksikan para pemimpin dari pusat hingga daerah berdiri dengan penuh percaya diri, ingin dipuji, ingin disanjung, bahkan ingin setiap kata-katanya dianggap seperti sabda yang tidak boleh dibantah.
Kritik dianggap ancaman. Perbedaan pendapat dianggap gangguan. Kejujuran dianggap tidak nyaman. Maka jangan heran jika di sekeliling kekuasaan tumbuh budaya menjilat. Para pengikut berlomba-lomba memuji, meski mereka tahu apa yang dipuji tidak selalu sesuai kenyataan. Yang benar bisa dipersalahkan. Yang salah justru diberikan tempat. Yang punya masalah malah naik jabatan. Dan semua itu dipertontonkan secara terbuka di hadapan rakyat. Lebih menyedihkan lagi, dipertontonkan di depan anak-anak bangsa.
Kita sering lupa bahwa peserta didik tidak hanya belajar dari buku. Mereka belajar dari: perilaku orang dewasa, ucapan para pemimpin, dan keadaan sosial yang mereka lihat setiap hari. Ketika mereka melihat: kebohongan menjadi biasa, korupsi dianggap lumrah, dan manipulasi dijadikan strategi, maka tanpa sadar mereka sedang menerima pelajaran yang sangat berbahaya.
Itulah sebabnya muncul celotehan yang menyakitkan: “Kalau besar nanti mau jadi koruptor…” “Mau jadi buzzer…” Ucapan yang mungkin terdengar seperti bercanda, tetapi sebenarnya adalah cermin dari krisis keteladanan. Yang paling mengkhawatirkan hari ini bukan sekadar banyaknya penyimpangan. Tetapi hilangnya rasa malu.
Dulu, orang yang ketahuan berbohong akan menunduk. Sekarang? Justru tampil percaya diri di depan kamera. Dulu, jabatan adalah amanah. Kini, sering kali menjadi alat mempertahankan kepentingan. Bahkan ketika kesalahan sudah terlihat jelas, masih ada keberanian untuk membalikkan fakta. Hukum dipelintir. Narasi dimainkan. Kebenaran dikaburkan. Dan anehnya, semua itu seperti dianggap biasa.
Di sisi lain, anak-anak muda yang: jujur, kritis, dan cerdas, justru sering menjadi korban. Mereka datang dengan harapan membangun negeri. Sebagian rela meninggalkan kenyamanan hidup di luar negeri. Gaji besar ditinggalkan demi satu keyakinan: bahwa Indonesia bisa lebih baik. Namun apa yang mereka temui? Kecurigaan. Tekanan. Kriminalisasi. Seolah negeri ini takut pada orang-orang yang berpikir terlalu jernih. Padahal bangsa besar justru lahir dari keberanian menghargai kecerdasan.
Sebagai guru, keadaan ini tentu menghadirkan kegelisahan yang dalam. Karena setiap hari guru mengajarkan: kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan keberanian berkata benar. Namun di luar sekolah, anak-anak melihat realitas yang berbeda. Mereka melihat: Kebohongan yang dibiarkan, kesalahan yang dibela, dan kejujuran yang dipinggirkan. Inilah tantangan terbesar pendidikan hari ini: bagaimana menjaga nilai tetap hidup di tengah lingkungan yang sering kali bertolak belakang.
Tanpa Batas
Namun justru di sinilah makna ketulusan seorang guru diuji. Guru tetap datang ke kelas. Tetap tersenyum. Tetap mengajar dengan hati. Bukan karena keadaan sudah baik-baik saja. Tetapi karena guru percaya: pendidikan adalah jalan panjang peradaban. Ketulusan guru tidak bergantung pada siapa yang berkuasa. Ia lahir dari keyakinan bahwa: setiap anak berhak mendapatkan cahaya.
Hari ini, mengajar dengan hati bukan lagi sekadar profesi. Ia adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap: kebodohan, ketidakjujuran, dan hilangnya nurani. Ketika dunia luar penuh kegaduhan, guru menjadi penenang. Ketika keteladanan mulai langka, guru menjadi contoh kecil yang nyata. Dan mungkin, itulah alasan mengapa profesi guru tetap mulia:
karena ia bekerja menanam harapan, bahkan saat keadaan terasa gelap.
Sejarah selalu mengajarkan satu hal: tidak ada malam yang abadi. Ada saatnya gelap berganti terang. Ada saatnya kebohongan runtuh oleh kebenaran. Ada saatnya rakyat kembali sadar akan pentingnya kejujuran. Dan perubahan besar itu sering kali tidak dimulai dari istana. Ia dimulai dari ruang kelas. Dari guru yang: tetap mengajarkan integritas, tetap percaya pada nilai, dan tetap mendidik dengan kasih sayang.
Guru sejati tidak hanya mengajar mata pelajaran. Ia sedang menyiapkan pemimpin masa depan. Pemimpin yang: tahu malu, tahu batas, tahu kapan harus berhenti, dan memahami bahwa jabatan adalah amanah, bukan warisan pribadi. Mungkin hari ini anak-anak itu masih duduk di bangku sekolah. Namun kelak, merekalah yang akan menentukan arah bangsa. Karena itu, guru tidak boleh lelah.
Meski keadaan sering membuat kecewa, negeri ini belum sepenuhnya kehilangan harapan. Karena masih ada: guru yang tulus, anak muda yang jujur, dan masyarakat yang belum kehilangan nurani. Mereka adalah cahaya kecil yang menjaga agar bangsa ini tidak benar-benar tenggelam.
Tulisan ini bukan sekadar kritik terhadap pemimpin. Ini adalah penghormatan bagi mereka yang tetap memilih: jujur, tulus, dan mendidik dengan hati. Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling berkuasa. Sejarah juga mencatat: siapa yang tetap menjaga nurani ketika banyak orang memilih menyerah. Dan seorang guru, meski sering diabaikan, tetap akan menjadi penjaga cahaya itu. Dengan: senyum sederhana, hati yang tulus, dan keyakinan tanpa batas, bahwa suatu hari nanti akan lahir pemimpin-pemimpin amanah dari ruang kelas yang hari ini masih ia jaga dengan cinta.**