Search
Close this search box.

VISI | Zalim: Belajar dari Anak-anak Kita

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

BELUM lama ini, penulis berkesempatan menjadi narasumber dalam sebuah podcast bertema pendidikan. Sebelum acara dimulai, penulis bertemu sahabat lama yang kini menjadi kepala sekolah di tempat itu. Dalam obrolan hangat kami, ia bercerita dengan penuh kebanggaan tentang putrinya yang duduk di bangku akhir sebuah SMK. Saat itu, sang putri tengah mempersiapkan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL)—sebuah tugas wajib di sekolah kejuruan.

Namun, ada kegundahan. Beberapa hari menjelang pelaksanaan PKL, putrinya belum juga mendapatkan tempat, berbeda dengan hampir semua temannya yang sudah diterima di berbagai perusahaan. “Padahal Kakak termasuk siswa berprestasi,” ucapnya lirih, menirukan perkataan sang anak.

Sebagai seorang ayah yang peduli, ia mencoba menawarkan solusi. Ia menghubungi seorang teman yang kebetulan adalah direktur di perusahaan BUMN ternama. “Kalau Kakak mau, bisa Ayah bantu di sana,” katanya dengan niat tulus. Namun, betapa terkejutnya ia ketika putrinya menjawab dengan suara tegas, “Tidak jadi, Ayah. Kakak tidak mau di perusahaan teman Ayah. Kalau Kakak mengambil itu berarti Kakak menzalimi orang lain. Bukankah sudah ada teman-teman lainnya yang sudah diterima di perusahaan tersebut? Alangkah naifnya jika hak mereka Kakak ambil!”

Sejenak ia terdiam, terhenyak, bahkan matanya berkaca-kaca. Dalam benaknya, anaknya baru saja mengajarkan sesuatu yang begitu dalam: bahwa menzalimi adalah perbuatan tercela, walau terlihat kecil atau berdalih “kesempatan”.

Cerita ini mengingatkan penulis akan pengalaman pribadi. Saat anak penulis mendapat beasiswa LPDP ke luar negeri, ia berkata santai, “Adik tidak akan mengambil beasiswa tersebut, sebab itu bisa jadi menzalimi saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan.” Sebuah pernyataan yang datang bukan dari orang dewasa dengan titel panjang, melainkan dari seorang anak yang memahami arti adil dan moral sejak dini.

Baca Juga :  Humaira Gelar Kegiatan “Satu Pohon, Sejuta Harapan” di Solokanjeruk

Kisah-kisah ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua, terutama para pemangku kebijakan dan elite kekuasaan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini, praktik kezaliman sering kali dibungkus rapi dalam nama “aturan”, “jalur khusus”, atau “prioritas nasional”. Tabungan rakyat yang mengendap dibekukan, tanah yang tak digarap dua tahun diambil negara, dan kebijakan-kebijakan lain yang tampaknya tak berpihak kepada rakyat kecil. Dalam dunia pendidikan pun, tak kalah kelam: jabatan kepala sekolah bisa “dibeli”, penerimaan peserta didik baru sering tidak transparan, bahkan mengabaikan keberadaan sekolah swasta yang tengah berjuang hidup.

Padahal, makna kezaliman sesungguhnya adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, atau mengambil hak yang bukan miliknya. Zalim bisa dilakukan oleh siapa saja: orang tua pada anak, pejabat kepada rakyat, atasan kepada bawahan, bahkan kita terhadap diri sendiri.

Zalim pada diri sendiri adalah bentuk kezaliman yang sering kita abaikan. Kita terlalu sering memaksa diri menyenangkan orang lain, menyetujui sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, bahkan diam saat melihat ketidakadilan karena takut kehilangan kenyamanan. Kita tidak berani berkata “tidak” ketika dihadapkan pada kebijakan yang merugikan. Kita memforsir tubuh bekerja siang malam, padahal tubuh sudah berteriak minta istirahat. Kita diam saat hak diperlakukan semena-mena, karena khawatir dicap pembangkang.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap bentuk kezaliman, termasuk kepada diri sendiri, adalah perbuatan yang dilarang. Bahkan dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim).

Mari belajar dari anak-anak kita sendiri. Terkadang mereka yang belum banyak dijejali ambisi dunia justru bisa menunjukkan kepada kita nilai-nilai kebenaran dan kejujuran yang murni. Jangan menzalimi siapa pun, termasuk diri sendiri. Sebab dari sanalah ketenangan hidup bermula—saat kita adil terhadap sekitar dan terhadap diri sendiri.

Baca Juga :  Bongkar Lima Jurus Cuan Bisnis Franchise Kuliner

Zalim bukan hanya tentang merampas harta atau merugikan secara fisik. Zalim adalah setiap bentuk pengambilan hak yang bukan milik kita. Dan yang paling memilukan: ketika anak-anak justru lebih paham nilai keadilan daripada orang dewasa yang telah lama mengecap pendidikan tinggi.

Mari kita belajar kembali. Mari kita membaca hati nurani sebelum membaca peraturan. Atau seperti ungkapan yang kini kian relevan: “Membaca yuk, sebelum dibacakan!” Jangan sampai kita terus menjadi generasi yang hanya pandai mendengar, tanpa pernah benar-benar memahami.

Jika anak-anak kita bisa berkata “tidak” pada kezaliman, kenapa kita yang dewasa terus berdamai dengannya?**

  • Doktor Ilmu Pendidikan, Wasekjen Komnasdik, dan Hipnoterapis

Baca Berita Menarik Lainnya :