Search
Close this search box.

Dugaan Kekerasan di Pesantren Bintan, Santriwati Mengaku Dianiaya Oknum Pengajar

Ilustrasi/AI dugaan insiden kekerasan di lingkungan pesantren. /visi.news
Ilustrasi/AI dugaan insiden kekerasan di lingkungan pesantren. /visi.news

Bagikan :

VISI.NEWS | BINTAN – Dugaan tindak kekerasan terhadap seorang santriwati di salah satu lingkungan pondok pesantren di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menjadi sorotan setelah kronologi kejadian yang disampaikan korban beredar luas.

Peristiwa itu disebut terjadi pada Selasa malam (12/5/2026) sekitar pukul 22.00 hingga 22.30 WIB. Korban yang merupakan siswi kelas 10 Madrasah Aliyah mengaku mengalami kekerasan fisik dan verbal yang diduga dilakukan oleh seorang oknum pengajar berinisial R.

Berdasarkan keterangan korban, insiden bermula ketika ia melihat dua santri lain sedang dihukum di area lapangan pesantren. Korban kemudian menegur cara penghukuman tersebut karena dinilai tidak wajar.

“Woi Pak, ingat fitrah Pak, fitrah! Kepala itu Pak, kasihan orang tuanya sudah bayarin fitrah,” ujar korban, menirukan ucapannya saat itu.

Setelah teguran tersebut, situasi disebut memanas. Korban menuturkan bahwa beberapa guru perempuan yang berada di lokasi diduga ikut menanggapi peristiwa tersebut, sebelum akhirnya korban dan seorang rekannya dipanggil ke tengah lapangan.

Di lokasi itu, korban mengaku mengalami tindakan kekerasan. Ia menyebut sempat terkena air kotor pada bagian mata dan kemudian lehernya dipukul menggunakan karung berisi pasir.

“Pokoknya tangan bapak itu sudah ke atas langsung dipukul ke leher saya. Saya mau tumbang di situ, saya menangis. Sempat sesak napas rasanya,” ungkap korban.

Menurut penuturan korban, tindakan lebih lanjut berhasil dicegah setelah beberapa guru lain datang melerai. Korban kemudian mengalami trauma dan gangguan pernapasan sesaat akibat syok dan tangisan histeris.

Pada malam kejadian hingga keesokan harinya, pihak perwakilan ustazah dan manajemen Madrasah Aliyah disebut telah memanggil korban untuk menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Korban juga dipulangkan sementara waktu untuk menenangkan diri, sementara pihak sekolah disebut mengutus perwakilan untuk meminta maaf secara langsung kepada keluarga.

Baca Juga :  Tak Dampingi Tim, Hodak: Tidak Ada Masalah

Melalui pesan singkat, korban menegaskan bahwa dirinya menceritakan kejadian tersebut demi mencari keadilan dan agar dugaan kekerasan itu diketahui publik. Ia juga menegaskan tidak bermaksud menyudutkan lembaga pesantren secara keseluruhan.

“Saya sakit hati dan tidak terima karena menjadi korban kekerasan. Pengennya biar orang-orang tahu, tapi saya tidak menjelekkan apalagi menyalahkan pondok pesantren tersebut. Hanya yang bersalah saat ini adalah oknum-oknum di sana,” tulis korban.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pesantren terkait kronologi maupun langkah penanganan lebih lanjut atas dugaan insiden tersebut.

Baca Berita Menarik Lainnya :