Search
Close this search box.

Islam itu Akhlakul Karimah

Bagikan :

Oleh Aep S Abdullah

KETIKA ditanya Deddy Corbuzier tentang Islam, Alm. Syekh Ali Jaber dengan sederhana mengatakan, Islam adalah akhlak dan cinta.

Innama bu’istu liutammima makarimal akhlak. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Demikian diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist.

Ucapan ini mengingatkan kita saat awal dakwah Rasulullah di Mekah. Terutama, saat kaum Quraisy meradang setelah Umar bin Khatab menyatakan masuk Islam. Umar menyatakan mualaf dengan terang-terangan. Tokoh yang disegani kaum Quraisy ini mengumumkan kemualafannya secara terbuka. Tidak sembunyi-sembunyi.

Berpindahnya keyakinan Umar bin Khatab ini, dikutip dari Buku ‘Sejarah Hidup Muhammad‘ karya Dr. Muhammad Husain Haekal, membuat marah para tokoh kaum Quraisy. Terlebih semangat Umar berdakwah setelah masuk Islam, sama besarnya dengan saat ia menolak ajaran Rasulullah.

Akibatnya, pengikut Rasulullah mulai mendapat tekanan. Kekerasan dan penyiksaan. Masih dianggap belum efektif. Keluarlah maklumat untuk memboikot total terhadap anak keturunan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Isinya, larangan kawin-mengawinkan, dan saling berjual beli apapun dengan keturunan keluarga tersebut. Tujuannya, agar Muhammad dan pengikutnya terisolir.

Piagam pemboikotan pun digantungkan di dalam Ka’bah, sebagai bentuk pengukuhan dan registrasi bagi Ka’bah. Anggapan kaum Quraisy dengan membiarkan pengikut Rasululloh kelaparan, akan memberikan hasil yang efektif daripada politik kekerasan dan penyiksaan. Meski politik kekerasan dan penyiksaan masih terus dijalankan.

Rasulullah dan pengikutnya tetap bersabar, makin berpegang teguh pada tuntunan Alloh SWT, dan tidak membalasnya dengan kekerasan pula. Rasulullah tetap menunjukkan makarimal akhlaknya.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun berjalan, Rasulullah dengan pengikutnya tetap meunjukkan ahlaknya yang mulia. Tidak terpengaruh oleh tekanan-tekanan tersebut. Dengan cara yang amat baik, ia tetap mengajak orang menerima kebenaran.

Sikap baik dalam tekanan yang amat dahsyat tersebut, sempat membuat kekhawatiran yang luar biasa bagi kaum Quraisy. Mereka khawatir ajakan Rasulullah yang memesona ini akan terus menyebar sampai ke kabilah-kabilah Arab, setelah sebelumnya menyebar di Mekah.

Baca Juga :  Kejari Sukabumi Tetapkan 8 Tersangka Korupsi Penyaluran Kredit Bank Plat Merah

Sampailah mereka pada ‘senjata’ propaganda. Propaganda dengan segala implikasinya dari mulai perdebatan, argumentasi-argumentasi, caci maki, penyebaran desas-desus, serta sifat merendahkan argumen lawan. Propaganda tidak hanya gencar di wilayah Mekah namun juga sampai di daerah pedalaman serta kabilah-kabilahnya, bahkan sampai semenanjung jazirah.

Namun, ditengah propaganda tersebut, para pedagang dan peziarah di Pasar Ukaz, Majanna dan Dhul Majaz, di jazirah Arab, tetap menunjukkan pelaksanaan ritual yang diajarkan Rasulullah SAW. Mereka berdagang, kemudian berziarah, dan menyembelih hewan qurban, untuk mengharapkan berkah dan ampunan. Konsistensi sikap umat Islam pada saat itu, sampai akhirnya memunculkan silang pendapat diantara kaum Quraisy sendiri. Mereka mulai berbeda pendapat dalam “merusak” akidah umat Islam, karena cara-cara yang dilakukannya selama itu dianggap tidak efektif.

Akhirnya, kaum Quraisy dan para tokohnya bertemu di rumah Walid bin ‘I-Mughira. Rapat membahas penajaman program deislamisasi. Menyamakan persepsi dalam membuat defamasi, merusak nama baik Rasulullah menjelang musim ziarah. “Bagaimana kalau kita katakan Muhammad itu dukun?,” usul salah seorang peserta pertemuan tersebut.

Al Walid menolak pendapat tersebut, “Jangan, karena kita tahu, komat-kamit Muhammad itu, bukan komat-kamit seorang dukun,” ujarnya.

“Bagaimana kalau kita katakan Muhammad itu gila?,” usul yang lainnya.

Walid pun kembali menolak usulan itu, karena tidak ada gejala yang tampak pada Rasulullah SAW.

Sampai ada yang mengusulkan Muhammad itu tukang sihir, namun kembali Walid menolak karena Muhammad tidak mengerjalan rahasia juru tenung atau suatu pekerjaan tukang sihir.

Di akhir diskusi, akhirnya Walid mengusulkan agar kepada para peziarah yang datang ke Mekah itu katakan bahwa Muhammad itu penerang yang memesona (Sahir’-bayan, atau Sihr ‘I-bayan). Orang bisa tersihir oleh pesonanya. Diyakinkan Walid, dengan “black campaign” tersebut akan memecah belah anak dengan orang tuanya, dengan saudaranya, dengan istri atau suami, juga dengan keluarga. Stigmatisasi tersebut dianggap tepat, karena kondisi masyarakat di Mekah sendiri saat itu mulai terjadi perpecahan dan permusuhan. Padahal, sebelumnya penduduk Mekah merupakan contoh solidaritas dan ikatan paling kuat bagi kabilah-kabilah yang ada di jazirah Arab.

Baca Juga :  Harapan Indonesia Bertumpu pada Tim Putri Uber

Untuk menguatkan propagandanya itu, Walid dkk menggandeng setannya orang Quraisy Nadzr bin Harith. Orang yang pernah pergi ke Hira dan mempelajari raja-raja Persia. Belajar peraturan-peraturan agama di Persia. Belajar ajaran kebaikan dan kejahatan serta tentang asal usul alam semesta di sana.

Setiap kali Rasulullah selesai mengajak orang-orang kepada tuntunan Allah, memperingatkan mereka tentang akibat-akibat yang menimpa bangsa-bangsa sebelumnya yang menentang Allah. Nadzr datang, dan menggantikan tempat Rasulullah menyampaikan ajakannya. Ia kemudian menyampaikan tentang sejarah dan agamanya, lalu ia katakan, “Dengan cara apa Muhammad membacakan ceritanya lebih baik dari aku? Bukankah Muhammad membacakan cerita-cerita orang terdahulu seperti yang aku ceritakan juga?

“Buzzer” Quraisy pun lalu menyebarkan cerita yang disampaikan Nadzr itu kepada para peziarah lainnya dengan aktif.

Namun, lagi-lagi Rasulullah tidak melakukan “kontra” buzzer. Rasulullah menunjukkan ahlaknya yang paripurna dengan tetap bersikap baik dan sabar. Sikap ahlakul karimahnya ini menjadi magnet yang luar biasa bagi daya tarik pengikutnya dan orang-orang yang belum memahami Islam pada saat itu. Sampai akhirnya, mulailah beberapa tokoh Quraisy berfikir lebih rasional.

“Biar aku mati, aku seorang cendekiawan, penyair,” kata Tufail bin Amr ad-Dausi, seorang bangsawan dan cendekiawan Arab, setelah mendengarkan langsung apa yang disampaikan Rasulullah di depan Ka’bah.

“Aku dapat mengenal mana yang baik, mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan orang itu!. Jika ternyata baik, aku terima, kalau buruk aku tinggalkan,” ujar Tufail yang sebelumnya diingatkan untuk tidak mendengarkan apa yang disampaikan Muhammad.

Tufail setelah mendengarkan Rasulullah, penasaran dan menguntitnya sampai rumah. Lalu dikatakan, apa yang terlintas dalam hatinya itu. Nabi Muhammad pun lalu menawarkan Islam kepadanya dan dibacakan ayat-ayat Al Qur’an. Laki-laki itu segera menerima Islam, dan membenarkan ayat-ayat suci itu dengan mengucapkan syahadat.

Baca Juga :  KDS Lantik 9 Kepala Desa Terpilih di Pilkades Antar Waktu Kabupaten Bandung

Melawan dengan ahlak yang baik memberikan efek yang lebih hebat lagi. Orang-orang Quraisy yang paling keras memusuhinya, mulai bertanya-tanya, benarkan Muhammad mengajak kepada agama yang benar? Dan apa yang dijanjikan dan diperingatkan kepada mereka juga sebuah kebenaran?

Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan al Akhnas bin Syariq penasaran diam-diam suatu malam mendengarkan Rasulullah membaca Al Qur’an di rumahnya. Mereka masing-masing mengambil tempat dan satu sama lain tidak saling mengetahui. Rasulullah yang biasa bangun tengah malam, mulai membaca Al Qur’an dengan tenang dan damai. Suara Rasulullah yang lembut, masuk ke telinga dan hati mereka.

Setelah fajar, mereka berpencar untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Di tengah jalan mereka bertemu dan setelah mengetahui apa yang mereka lakukan. Mereka mulai saling menyalahkan. “Jangan terulang lagi. Kalau kita dilihat orang-orang bodoh, ini akan melemahkan kedudukan kita, dan mereka akan berfihak pada Muhammad”.

Namun, kejadian itu berulang, di malam kedua dan ketiga. Sampai akhirnya mereka menyadari kebodohannya itu.

Ahlak yang baik, yang ditunjukkan Rasulullah SAW, tidak hanya menjadikan daya tarik bagi penduduk Arab, namun orang-orang yang dianggap musuh Rasulullah pun penasaran oleh sikapnya yang tetap tenang dan damai. Dan, ahlak Rasulullah yang diamalkan oleh pengikut-pengikutnya yang berakhlakul karimah inilah sesungguhnya yang menjadikan Islam tidak hanya diterima di jazirah Arab, namun meluas hingga hampir seluruh bagian dunia.

(Penulis, pemimpin umum visi.news)

Baca Berita Menarik Lainnya :