VISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Kelompok Jalan Teater akan menggelar Main-Mind di Museum,
sebuah pertunjukan inklusif berbasis teater museum.
Tiga museum yang dipilih sebagai
ruang sekaligus panggung pertunjukan berlokasi di Kota Bandung, yakni Museum Sri
Baduga, Museum Geologi, dan Museum Konferensi Asia-Afrika.
Sahlan Mujtaba, pendiri Jalan Teater sekaligus produser dan sutradara Main-Mind di
Museum menjelaskan bahwa garapannya kali ini bertolak dari kecenderungan umum
museum-museum di Indonesia.
“Keberadaan museum masih sebatas tempat penyimpanan artefak atau pajangan benda-benda koleksi. Dalam urusan penyampaian informasi, museum masih jarang diinovasi
dengan cara- cara kreatif. Padahal, museum mempunyai potensi ragam daya ungkap terkait
multifungsinya sebagai ruang audio-visual juga interpretasinya terhadap masa lampau,”
ungkap Sahlan, saat mengadakan konferensi pers di Taman Siklus Batuan, Kota Bandung, Rabu (25/1/2023).
Hal itu, kata Sahlan, kentara pada pola komunikasi penyelenggara museum tiap kali menjelaskan koleksi
museum kepada pengunjung. Jika bukan lewat caption atau takarir(tekstual), informasi
disampaikan secara oral oleh pemandu dengan cara-cara yang tidak banyak berubah dari waktu ke waktu.
Pemandu sekadar memberi penjelasan dan pengunjung sekadar menyimaknya.
“Komunikasi semacam itu jarang menyentuh (apalagi mengaktivasi) perasaan dan tindakan pengunjung,” katanya.
Ia mengatakan, lewat Main-Mind di Museum, Jalan Teater berupaya mendobrak kejumudan itu.
Dimaksudkan untuk mengeksplorasi ragam metode komunikasi interaktif dan
pembelajaran kreatif di museum.
Garapan ini juga diharapkan dapat mengeksplorasi praktik-praktik pembelajaran di museum yang berpusat pada pengunjung.
“Konkretnya,
pertunjukan yang berlangsung tidak hanya untuk ditonton, tetapi juga menunjukkan bahwa pedagogi alternatif museum sedang dipraktikkan.
Sebagai sarana pedagogi alternatif, Main-Mind di Museum mengusung empat konsep
pertunjukan,” ungkapnya.
Masih kata Sahlan, dimulai dari konsep pertama, interpretasi orang pertama, di mana fasilitator memerankan tokoh
tertentu, misalnya tokoh sejarah, dan berinteraksi dengan pengunjung museum melalui
perannya.
Kedua, pertunjukan teater. Tim Main-Mind di Museum membuat pertunjukan dengan
latar waktu tertentu, misalnya kehidupan di Indonesia pada tahun 1950-an (untuk konteks
Museum Konferensi Asia-Afrika) dengan tujuan agar fasilitator dapat membantu pengunjung memahami peristiwa sekaligus masalah-masalah yang berlangsung pada periode tersebut juga memaknai relevansinya dengan situasi saat ini.
Ketiga, pemeragaan kembali peristiwa sejarah. Bentuk ini dapat menjadi rekreasi teatrikal
dari suatu peristiwa bersejarah, dan prosesnya melibatkan sejumlah pengunjung.
Keempatnya permainan peran. Bentuk ini dikenal sebagai interpretasi orang kedua, fasilitator dan penonton bekerja sama memainkan perannya.
Sahlan menekankan, aspek peran adalah elemen penting dalam pertunjukan Main-Mind
di Museum. Di sini, kerja pemeranan lebih tentang memainkan, daripada ‘menjadi’, dan mengandalkan improvisasi ketimbang hapalan teks tertulis.
Sementara itu ia mengatakan teknisnya, fasilitator, dan pengunjung memilih suatu peran dan memainkannya itu dalam
situasi imajinatif.
Dalam pertunjukan ini, pemeran (fasilitator dan pengunjung) lebih dari sekadar aktor.
“Mereka adalah sarana untuk mengeksplorasi masalah, menceritakan kisah,
mengembangkan tema, dan sebagainya. Fasilitator dan pengunjung mengoptimalkan
perannya lewat kegiatan aktif seperti bercerita, menulis, bergerak, merespons suara, dan improvisasi, dalam sebuah pertunjukan berbasis naskah lakon, seorang aktor terikat oleh teks.
Namun, dalam pertunjukan ini, fasilitator dan pengunjung dapat mencoba semua jenis peran dan
situasi secara bebas untuk menjelajahi cerita atau peristiwa apa yang ingin dideskripsikan
dan aspek mana yang paling menarik dari cerita atau peristiwa itu,” jelas Sahlan.
Proses garapan Main-Mind di museum berlangsung sejak akhir November 2022 lalu, seminggu
sekali, melibatkan sejumlah komunitas dan elemen masyarakatyang disebut
kolabolator terutama penyandang disabilitas, pelajar, guru, praktisi pendidikan, akademisi, sejarawan, seniman, serta penyelenggara dan pengelola museum.
Pelibatan semua komponen itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan lain. Adapun diselenggarakannya Main-Mind di museum guna menjadikan museum sebagai ruang inklusif
dan demokratis dalam kaitannya sebagai wahana pendidikan dan rekreasi.
Pentas Main Mind di Museum akan dilangsungkan saban hari Sabtu pada tiga pekan pertama bulan Februari 2023.
Rinciannya
Museum Sri Baduga (1-2/2/2023), Museum
Geologi (10-11/2/2023), dan Museum Konferensi Asia Afrika (15/2/2023).
“Ketiga museum
itu dipilih berdasarkan konteks tema museum yang beragam sehingga memungkinkan
pendekatan dan eksplorasi artistik yang berbeda,” pungkas Sahlan.
Seluruh pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum. Informasi lengkap mengenai
Main-Mind di Museum bisa didapat via akun Instagram @main.mind.id
@gvr