Search
Close this search box.

Ketua MRPTNI Dorong Pemerintah Lakukan Mitigasi Pandemi Berbasis Komunitas

Rektor UNS dan Ketua MRPTNI, Prof. Dr. Jamal Wiwoho/visi.news/tok suwarto

Bagikan :

VISI.NEWS – Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) yang juga Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Jamal Wiwoho, mendorong pemerintah agar melakukan mitigasi pandemi Covid-19 berbasis komunitas atau masyarakat.

Mitigasi tersebut karena kondisi Indonesia sangat memprihatinkan akibat angka pertambahan kasus Covid-19 harian merupakan yang tertinggi di dunia, menyaingi Brasil dan India yang sejak pandemi masing-masing mencapai 19,3 juta kasus dan 31 juta kasus.

“Kasus Covid -19 di Indonesia terus bertambah, bahkan semakin parah. Pada minggu ini saja, di Indonesia setiap hari selalu mengalami lonjakan kasus Covid-19 di atas 40.000 orang,” kata Prof. Jamal dalam dialog kebangsaan bertajuk “Kolaborasi Memperkuat Kapasitas Masyarakat Menghadapi Pandemi Global Covid-19: dari Bantuan Sosial hingga Tenaga Kesehatan”, yang digelar secara daring kemarin.

Menurut Rektor UNS, pandemi Covid -19 yang melanda Indonesia sejak 2 Maret 2020, mengakibatkan beban anggaran negara semakin berat. Hal itu disebabkan lumpuhnya berbagai sektor perekonomian, sehingga negara harus memberikan perlindungan kesejahteraan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Menkeu Sri Mulyani menyatakan, negata telah melakukan refocusing anggaran yang digelontorkan untuk penanganan Covid-19 mencapai Rp 150 tiriliun lebih. Jumlah itu belum termasuk toleransi defisit anggaran dan melemahnya produktivitas ekonomi nasional,” ujar Prof. Jamal kepada wartawan, Minggu (18/7/2021).

Beban anggaran negara yang semakin berat tersebut, sambung Prof. Jamal, menuntut pemerintah untuk membuka diri terhadap partisipasi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan upaya bersama pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Prinsip community based management yang disandingkan dengan peranan negara, akan dapat secara maksimal meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi pandemi,” tandasnya.

Ketua MRPTNI itu melihat di Indonesia ada dua potensi dan kekuatan besar untuk menanggulangi pandemi Covid-19, yaitu kekuatan nilai-budaya dan organ kelembagaan masyarakat.
Kekuatan nilai-budaya, kata Prof. Jamal mengutip data CAF World Giving Index 2021, Indonesia mendapatkan predikat sebagai negara paling dermawan di dunia, di antaranya dapat dilihat dari tradisi gotong royong masyarakat dalam menolong orang-orang yang terdampak pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Komisi IX Tolak Baleg Ambil Alih RUU Ketenagakerjaan, Irma Ingatkan UU Cipta Kerja

“Di saat pemerintah memikirkan kebijakan bantuan sosial dan penanganan pandemi, masyarakat sudah bergerak terlebih dahulu untuk memberikan bantuan,” tutur Prof. Jamal.

Di samping itu, Prof. Jamal menyebut organ kelembagaan masyarakat yang layak diapresiasi, yakni “Jogo Tonggo” yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dan program “Desa Siaga” yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil di masa pandemi.

“Kedua program tersebut dapat semakin memupuk rasa solidaritas masyarakat, agar mampu melewati sekat-sekat sekaligus dapat menjadi harapan dan kekuatan baru dalam menghadapi pandemi Covid-19. Itu potensi dan kekuatan yang menegaskan bahwa kebersamaan dan budaya gotong royong masih hidup di masyarakat kita,” sambungnya.@tok

Baca Berita Menarik Lainnya :