VISI.NEWS | MALAYSIA – Malaysia melonggarkan pembatasan perjalanan domestik dan internasional pada hari Minggu bagi mereka yang divaksinasi penuh terhadap virus corona, ketika wabah yang ganas melambat dan tingkat inokulasi meningkat.
Negara Asia Tenggara itu telah menghadapi gelombang Covid-19 terburuk dalam beberapa bulan terakhir, mendorong pihak berwenang untuk memberlakukan penguncian nasional yang ketat.
Tetapi dengan jumlah kasus yang turun dan peluncuran inokulasi semakin cepat, pihak berwenang mulai mencabut pembatasan, dan bisnis diizinkan untuk dibuka kembali serta pekerja mulai kembali ke kantor.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Minggu, Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob mengumumkan, orang yang disuntik sepenuhnya dapat bergerak bebas di dalam negeri, serta terbang ke luar negeri tanpa izin khusus.
“Menurut kementerian kesehatan, tingkat vaksinasi untuk populasi orang dewasa telah mencapai 90 persen,” katanya menjelaskan langkah yang mulai berlaku pada Senin (11/10/2021).
Tetapi Ismail Sabri memperingatkan orang-orang untuk terus mematuhi aturan seperti mengenakan masker untuk menjaga agar virus tetap terkendali.
“Jangan berpuas diri… Ini penting dalam upaya pemerintah membuka kembali perekonomian,” ujarnya.
Warga Malaysia telah dilarang bepergian antar negara bagian yang berbeda di negara itu sejak Januari, selain dalam keadaan luar biasa. Perjalanan ke luar negeri hanya diperbolehkan bagi mereka yang mendapat izin khusus dengan mendaftar melalui sistem resmi.
Sementara persyaratan ini dicabut, pelancong yang kembali masih harus menjalani karantina.
Malaysia sebagian besar menghindari gelombang pertama virus pada awal pandemi tahun lalu setelah memberlakukan pembatasan dan menutup perbatasannya.
Tahun ini sangat negeri jiran tersebut terpukul oleh varian Delta, dan mencatat lebih dari 20.000 kasus sehari dan ratusan kematian pada bulan Agustus.
Tetapi setelah salah satu peluncuran vaksin tercepat di Asia Tenggara, tingkat infeksi telah melambat.
Negara berpenduduk 32 juta ini telah mencatat lebih dari 2,3 juta kasus dan 27.000 kematian.@mpa/al arabiya