Search
Close this search box.

Mengenal Cak Mamat Seniman Karawitan dari Sanggar Karawitan Klapa Jajar Cirebon

Penulis dengan Cak Mamat di kediamannya di Cirebon. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS | CIREBON – Kota Cirebon selalu memiliki cerita, dan kisah perjuangannya sendiri, dari sosok-sosok inspiratif yang bisa kita kenali.

Kali ini kita akan berkenalan dengan sosok seniman, yang biasa orang memanggilnya Cak Mamat.

Minggu (9/6/2024) siang kemarin, penulis berkesempatan bertemu dan bersilaturahmi dengan sosok seniman kondang ini. Beliau adalah pemilik dari sanggar Klapa Jajar Cirebon, yang sudah sedari kecil, Cak Mamat ini menggeluti seni karawitan warisan orang tuanya.

Di Kota Wali Cirebon, siapa yang tak kenal Sanggar Karawitan Klapa Jajar?
Dan siapa pula yang tak mengenal Cak Mamat.

Ia seorang yang konsisten memegang pewarisan seni tradisi karawitan gaya Cirebonan.

Dan beberapa sanggar di wilayah Cirebon juga, seperti sanggar Sekar Pandan, dan ada beberapa lagi, semua terkoneksi satu keturunan dari trah Kesultanan Kanoman.

Sanggar Klapa Jajar Cirebon, merupakan sanggar yang bergerak dalam pewarisan tradisi khususnya karawitan di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Dan sanggar ini juga adalah sebuah sanggar yang telah sejak lama ada di Kota Cirebon, yang berdiri sejak tahun 1970, tepatnya berdiri pada 6 Agustus 1970.

Adapun sanggar ini berada di antara Pasar Kanoman, dan Kraton Kesultanan Kanoman, tepatnya di belakang Masjid Pusaka Kraton Kanoman.

Beralamat di daerah Kanoman Utara No. 21 di
Rt 02/ Rw 10, Kelurahan Pekalipan Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, dan dari Sanggar Klapa Jajar inilah para generasi muda Kota Cirebon dan sekitarnya, terus mendapat pembinaan dari Cak Mamat dengan semangat pewarisan seni dan budayanya di bidang karawitan.

Sanggar Klapa Jajar sendiri berdiri pada tahun 70 dan sekarang sudah berada di tangan Cak Mamat, generasi kedua, yang konsisten terus memegang warisan orang tuanya untuk mengajarkan seni karawitan pada generasi berikutnya di Kota Cirebon.

Baca Juga :  Pencurian Kabel di Lintas Daru-Parungpanjang, Perjalanan KRL Terganggu

Tepatnya pada 6 agustus 1970 Sanggar Klapa Jajar ini berdiri, dan pendiri dari Sanggar Klapa Jajar adalah seorang gegeden Kraton Kanoman, yakni Pangeran Agus Joni, yang termasuk trah keturunan Keraton Kesultanan Kanoman, ayahandanya Cak Mamat.

Dari pernikahannya, Cak Mamat sendiri dikarunia tiga putra, yakni, Ratu Riana Sopiah Yasmin alumni UPI Bandung Jurusan Tari, yang ke dua Ratu Kurnia Dwi Putri Ayu yang sekarang masih mengambil prodi tari di semester akhir di UPI, dan yang ketiga seorang anak laki-laki bernama Zulkarnaen, yang sekarang tengah duduk di semester 4 di ISI Solo, mengambil prodi karawitan.

Sebagai seorang pewaris seni tradisi tentu dalam pengelolaan sanggar tradisi tidaklah mudah. Ada suka dan duka sebagai sosok pelanjut sanggar yang diwariskan.

“Saya ini hanya melanjutkan saja, suka duka mengurus sanggar banyak, terutama di masalah fasilitas untuk pagelaran, di Cirebon ini kita masih kurang, dan belum banyak tempat untuk dijadikan lokasi mengapresiasi pertunjukan seni tradisi kita di sini,” ujar Cak Mamat.

“Di tambah pemerintah daerah pun, dan masyarakatnya, masih kurang dalam mengapresiasi dan mendukung peran sanggar sanggar seni yang ada.

“Antusias generasi sekarang kurang minat kepada seni tradisi, kebanyakan mereka sudah kadung tertarik, senang budaya kontemporer yg datang dari luar, seperti K-Pop, dan itu luar biasa para remaja, dewasa, sampai anak-anak pun menyukainya. Itulah tantangan kami para pemilik sanggar.

“Dan harapan kedepannya dengan adanya peran IA ISBI, kami para seniman tradisi berharap, kalangan seniman akademik, para tokoh seniman lainnya, bisa membantu meloby pemerintah daerah di seluruh Jawa Barat, sehingga pemerintah daerah setempat, bisa lebih memberi support kepada kami, dan turut membantu peran seniman yang ada di daerahnya masing-masing.

Baca Juga :  Farhan Targetkan Lelang Pengelolaan Kebun Binatang Bandung Rampung Akhir Mei

“Saya berharap IA ISBI mampu menjembatani itu semua.” ungkap Cak Mamat mengakhiri ceritanya.

@bambang melga suprayogi

Baca Berita Menarik Lainnya :