Search
Close this search box.

Menjelang Ramadan, Warga Pidie Jaya Terjebak Lumpur Banjir Bandang: Rumah Tak Layak Huni, Tenaga dan Uang Sama-sama Habis

Warga membersihkan lumpur setinggi lebih dari satu meter di dalam rumah pascabanjir bandang di Gampong Blang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/1/2026)./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | PIDIE JAYA – Harapan warga korban banjir bandang dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya untuk kembali menempati rumah mereka kian mendesak. Lumpur tebal yang mengendap hingga lebih dari satu meter membuat pembersihan nyaris mustahil dilakukan sendiri, sementara kemampuan ekonomi warga sudah habis terkuras.

Di Gampong Blang Cut, Kecamatan Meureudu, ratusan warga masih harus bergulat dengan sisa bencana. Lumpur menutup halaman hingga masuk ke dalam rumah, membuat bangunan tak layak huni dan memaksa warga memilih mengungsi pada malam hari.

“Saat ini yang warga butuhkan adalah pembersihan rumah, karena jika hanya mengandalkan tenaga masing-masing pemilik rumah tidak sanggup,” kata Keuchik Gampong Blang Cut, Muhammad Jamin, Jumat (9/1/2026).

Ia menyebutkan, kondisi rumah warga masih tertimbun lumpur dengan ketebalan yang berbeda-beda. Sementara itu, alat berat yang tersedia masih difokuskan untuk membuka akses jalan utama yang sempat terputus.

“Saat ini berbagai pihak juga sedang melakukan pembersihan jalan yang tidak dapat diakses karena tertimbun lumpur. Alat berat juga sudah dikerahkan untuk pembersihan jalan,” ujarnya.

Sebanyak 435 jiwa dari gampong tersebut terpaksa mengungsi. Pada malam hari mereka berlindung di Komplek Kantor Bupati Pidie Jaya, sementara siang hari kembali ke kampung untuk melihat kondisi rumah dan membersihkan sisa lumpur semampunya.

“Warga malam hari mengungsi ke Komplek Kantor Bupati Pidie Jaya dan pada pagi hingga sore pulang ke kampung untuk melihat apa yang bisa dikerjakan,” kata Muhammad Jamin.

Menurutnya, pembersihan akan jauh lebih efektif jika lumpur di halaman rumah dikeruk dan diangkut menggunakan alat berat, sehingga warga dapat membersihkan bagian dalam rumah secara mandiri.

“Kami berharap lumpur di perkarangan rumah bisa dikerok dan diangkut. Kami juga berharap ada bantuan cangkul, sekop, dan gerobak tangan serta relawan yang ikut membantu,” ujarnya.

Baca Juga :  SMP PCI Baleendah Gandeng SIS Wujudkan Siswa Berwawasan Internasional

Kekhawatiran warga semakin besar karena waktu terus berjalan mendekati bulan suci Ramadan.

“Kami berharap saat Ramadan tiba dapat tinggal di rumah walau dalam keadaan keterbatasan,” kata Muhammad Jamin.

Kondisi serupa dialami warga Gampong Manyang Cut. Rohana, salah seorang warga, mengatakan lumpur yang menutup halaman rumah justru memperparah kondisi saat hujan turun.

“Kami sangat berharap lumpur dikeruk, karena jika tidak dikeruk dan diangkut, saat rumah kami bersihkan air akan masuk ke dalam rumah,” katanya.

Rohana mengaku bersama suaminya membersihkan lumpur setinggi sekitar 1,5 meter di dalam rumah secara perlahan. Namun upaya itu sering sia-sia karena air kembali masuk akibat posisi tanah di luar rumah yang lebih tinggi.

“Kalau untuk membayar orang kami tidak sanggup karena tidak ada uang. Semua yang ada di rumah tidak bisa kami gunakan lagi,” ujarnya.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menambah jumlah alat berat dan tenaga bantuan, khususnya untuk wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang, agar pemulihan dapat segera dilakukan sebelum Ramadan tiba. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :