VISI.NEWS | BANDUNG – Sejarah Nusantara menyimpan berbagai kisah tentang kebesaran, perjuangan, dan kebijaksanaan leluhur bangsa Indonesia. Salah satu simbol yang tak lekang oleh waktu adalah bendera Merah Putih, yang ternyata memiliki akar mendalam jauh sebelum Indonesia merdeka. Warna yang kini menjadi lambang negara ini sejatinya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara sejak era Kerajaan Majapahit, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Gunung Buthak.
**Merah Putih dan Majapahit: Simbol Kebesaran Kerajaan**
Kerajaan Majapahit, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, menggunakan bendera merah putih yang dikenal dengan nama Sang Panji Gulo Klopo. Warna-warna ini tidak hanya mencerminkan kekuatan dan kejayaan kerajaan, tetapi juga melambangkan nilai-nilai budaya yang luhur serta semangat persatuan di antara rakyatnya.
Setelah Islam mulai berkembang dan kerajaan-kerajaan Islam berdiri di Nusantara, tradisi dan simbol-simbol lama tidak serta-merta ditinggalkan. Sebaliknya, mereka diadopsi dan diselaraskan dengan nilai-nilai baru yang dibawa oleh agama Islam. Kerajaan-kerajaan ini, yang berada dalam satu barisan dengan Dinasti Turki Utsmani, juga mengusung warna merah putih dalam bendera mereka, memperkuat kesatuan umat Islam di wilayah tersebut.
**Pangeran Diponegoro dan Perlawanan dengan Simbol Merah Putih**
Ketika kolonialisme Belanda menancapkan kukunya di Nusantara, warna merah putih kembali muncul sebagai simbol perlawanan. Pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan nasional terbesar, menggunakan bendera merah putih dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825-1830. Bendera ini bukan hanya lambang kebesaran Majapahit, tetapi juga representasi dari nilai-nilai keadilan dan kebebasan yang diperjuangkan oleh Diponegoro dan pengikutnya.
Namun, perjuangan melawan Belanda tidak berjalan mudah. Diponegoro, menyadari potensi kehancuran total Jawa jika perang diteruskan, akhirnya memilih berdamai, sebuah langkah yang dilihat sebagai persiapan untuk perjuangan yang lebih besar di masa depan. Meskipun demikian, semangat perlawanan tidak pernah padam, dan simbol merah putih tetap dijaga oleh masyarakat Jawa dengan berbagai cara.
**Menjaga Simbol Merah Putih dengan Kearifan Lokal**
Selama masa penjajahan, masyarakat Jawa dengan cerdik menyembunyikan simbol merah putih dalam tradisi dan ritual sehari-hari. Misalnya, bubur merah putih yang disajikan untuk merayakan kelahiran bayi dijelaskan kepada penjajah sebagai simbol kasih sayang orang tua, sementara tumpeng dengan cabe merah di atasnya diartikan sebagai persembahan kepada leluhur.
Tidak hanya itu, saat mendirikan rumah baru, masyarakat Jawa kerap menyematkan kain merah dan putih pada bagian kuda-kuda rumah, disertai tebu, kelapa, dan pisang. Semua ini dilakukan untuk menjaga agar simbol merah putih tetap hidup, meski berada di bawah pengawasan ketat penjajah.
**Pesan KH. Hasyim Asy’ari dan Proklamasi Kemerdekaan**
Pada tahun 1937, jauh sebelum Indonesia merdeka, Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar dan pendiri Nahdlatul Ulama, memberikan pesan penting saat Muktamar NU di Banjarmasin. Ia meminta agar bendera Indonesia yang kelak merdeka tetap berwarna merah putih, sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi leluhur dan simbol persatuan bangsa.
Pesan ini menjadi kenyataan saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Habib Ali Abdurrahman Kwitang menjadi salah satu tokoh yang segera mengibarkan bendera Merah Putih di Jakarta, diikuti oleh seluruh rakyat. Momen ini menegaskan bahwa merah putih bukan sekadar hasil kesepakatan para pendiri bangsa, melainkan warisan yang telah dijaga selama berabad-abad oleh nenek moyang bangsa Nusantara.
**Kenali dan Cintai Merah Putih**
Merah putih adalah simbol martabat bangsa Indonesia yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah panjang yang mengiringi warna ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan mencintai warisan budaya yang telah diberikan oleh leluhur. Dengan mengenal dan mencintai merah putih, kita tidak hanya menghargai masa lalu, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang lebih cerah bagi bangsa Indonesia. Salam cinta merah putih, lambang kehormatan dan kebesaran bangsa Indonesia.
@uli