VISI.NEWS | JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) kembali merilis pembaruan data korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025. Hingga Minggu (7/12/2025) pukul 19.00 WIB, tercatat 921 orang meninggal dunia, 392 masih hilang, 5 ribu orang luka-luka, dan 962,2 ribu warga terpaksa mengungsi. Total 52 kabupaten/kota terdampak dari bencana besar ini, menjadikannya salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam dua dekade terakhir.
Kerusakan infrastruktur dan permukiman juga dilaporkan sangat masif. BNPB mencatat 147,3 ribu unit rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga berat. Selain itu, terdapat 1,3 ribu fasilitas umum rusak, 199 fasilitas kesehatan terdampak, 701 fasilitas pendidikan rusak, 234 gedung/kantor rusak, 420 rumah ibadah terdampak, dan 405 jembatan putus atau mengalami kerusakan parah.
Di Provinsi Aceh, korban meninggal bertambah menjadi 366 jiwa, dengan 4,3 ribu orang luka-luka dan 97 lainnya belum ditemukan. Korban tersebar di 12 daerah, termasuk Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Timur, Bireuen, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Kota Langsa, dan Lhokseumawe. Aceh menjadi wilayah dengan dampak terparah dalam bencana kali ini.
Jumlah pengungsi di Aceh melonjak tajam mencapai 904,1 ribu orang. Infrastruktur di wilayah ini pun mengalami kerusakan besar-besaran: 138,5 ribu rumah rusak, 258 fasilitas pendidikan terdampak, 312 jembatan rusak, serta ratusan fasilitas kesehatan, gedung, dan rumah ibadah ikut hancur.
Di Sumatra Utara, BNPB mencatat 329 korban meninggal dunia yang tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Tapanuli Utara, Deli Serdang, Kota Medan, Langkat, dan Humbang Hasundutan. Sebanyak 82 orang masih dalam pencarian, 647 warga terluka, dan 43,4 ribu orang masih berada di lokasi pengungsian.
Sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak di provinsi ini, dengan sejumlah bangunan juga mengalami kerusakan, termasuk puluhan fasilitas umum, fasilitas pendidikan, jembatan, serta rumah ibadah.
Provinsi Sumatra Barat mencatat 226 korban meninggal, sementara 213 orang masih dicari. Daerah yang terdampak mencakup Agam, Padang Panjang, Padang Pariaman, Kota Padang, dan Pasaman Barat. Sebanyak 112 warga luka-luka dan 14,7 ribu orang terpaksa mengungsi.
Kerusakan infrastruktur juga cukup besar, meliputi 6,1 ribu rumah rusak, 655 fasilitas umum terdampak, 72 fasilitas kesehatan, 383 fasilitas pendidikan, 200 rumah ibadah, 29 gedung kantor, serta 64 jembatan rusak.
NU Peduli Terjun ke Lapangan
Anggota Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, Kurniasih Zulhadji, menyampaikan duka mendalam bagi seluruh warga yang terdampak bencana ini. Ia menegaskan bahwa dukungan moral, doa, dan bantuan nyata sangat berarti bagi para korban.
“Dalam situasi penuh keprihatinan ini, doa dan bantuan bagi saudara-saudara terdampak sangat berarti. Belasungkawa menjadi bentuk dukungan moral bagi mereka,” ujarnya kepada NU Online.
LPBI PBNU bersama tim NU Peduli terus bekerja di Sumatra Barat dan Aceh untuk mendistribusikan bantuan berupa sembako, air mineral, pakaian, serta menyiapkan layanan dukungan psikososial bagi para pengungsi. “Bagi kami, duka saudara-saudara kita adalah duka kami. Doa menjadi penguat iman agar korban tetap tabah menghadapi cobaan,” pungkasnya.
@uli