Oleh Drajat
DALAM kehidupan sehari-hari, kita tidak asing dengan ungkapan, “Orang lain bisa berkata apa saja, yang penting kita tetap di jalur yang benar.” Namun, kenyataannya tidak selalu semudah itu. Ketika seseorang mencoba berbuat baik, memperbaiki lingkungan, menginisiasi gerakan sosial, atau sekadar membiasakan sikap positif, respon yang didapat tidak selalu sambutan hangat. Justru, cibiran, komentar sarkastik, dan sinisme kerap muncul. Dalam bahasa populer sekarang: nyinyir.
Kata “nyinyir” menjadi semacam virus sosial. Ia bukan sekadar kritik yang membangun, melainkan komentar tajam, merendahkan, penuh prasangka, dan kerap datang dari mereka yang tidak melakukan apa pun. Parahnya, nyinyiran sering kali disampaikan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, punya jabatan, bahkan publik figur. Nyinyir menjadi “gaya berbicara” yang dipakai untuk membungkam atau mengecilkan niat baik orang lain.
Nyinyir bukan sekadar kata. Ia telah menjadi gejala sosial. Mudah kita jumpai di media sosial, dalam forum diskusi, bahkan di ruang-ruang pendidikan. Orang melakukan sesuatu yang positif, akan selalu ada yang berkata:
“Sok bijak!”
“Pencitraan saja itu!”
“Ah, biar dilihat atasan!”
“Kalau benar, kenapa baru sekarang?”
Padahal yang dilakukan bisa jadi adalah upaya sungguh-sungguh, murni, dan dengan niat baik. Namun budaya nyinyir tak memberi ruang untuk apresiasi. Ia mengendap di balik rasa dengki, iri, atau ketidakmampuan untuk ikut berbuat. Yang lebih menyedihkan, orang-orang yang nyinyir ini justru tidak menawarkan solusi, bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Lebih bahaya lagi jika nyinyir berasal dari orang berpengaruh, seorang pemimpin, tokoh, atau elite politik. Kata-katanya akan menjadi pembenaran, dicontoh oleh pengikutnya, dan memperkuat budaya destruktif. Maka tak heran jika anak-anak muda menjadi apatis, takut tampil, takut berprestasi, karena takut disindir atau dijadikan bahan olokan.
Sebagai seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun, saya sering menjumpai kasus serupa. Seorang siswa yang rajin, tampil percaya diri, aktif dalam organisasi, tak jarang dianggap sok pintar. Guru yang penuh inisiatif, yang membuat program-program literasi, inovasi pembelajaran, atau menulis di media, juga tak luput dari komentar sinis dari rekan sejawat.
“Biasa, cari muka sama kepala sekolah.”
“Paling juga mau naik pangkat.”
“Udah kayak dosen aja gaya ngajarnya.”
Apakah mereka salah? Tidak. Yang salah adalah budaya tidak mendukung yang baik. Ini menunjukkan betapa dunia pendidikan yang seharusnya menjadi lahan tumbuhnya apresiasi, justru ikut tercemar oleh budaya nyinyir. Jika tidak diwaspadai, sekolah bisa menjadi tempat yang justru mematikan semangat, bukan memeliharanya.
Di tengah dunia yang penuh sinisme, berbuat baik adalah tindakan revolusioner. Karena itu, setiap individu yang ingin menciptakan perubahan harus siap dengan ujian. Salah satunya: nyinyiran. Maka, kita tidak perlu menjawab semua komentar sinis itu. Jawaban terbaik dari nyinyir adalah konsistensi. Tetap melakukan kebaikan, tetap tersenyum, tetap memberikan dampak.
Seperti kata pepatah, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Kita tidak bisa menghentikan setiap orang yang nyinyir, tapi kita bisa terus melangkah dan menunjukkan bahwa niat baik kita bukan untuk pamer, tapi untuk berbagi manfaat. Biarlah waktu dan hasil kerja kita yang berbicara.
Mereka boleh nyinyir, tapi kita tetap menulis. Mereka boleh nyinyir, tapi kita tetap mengajar dengan hati. Mereka boleh nyinyir, tapi kita tetap membimbing anak-anak dengan cinta. Karena kebaikan tidak perlu banyak bicara, cukup terus dikerjakan.
Lucunya, nyinyiran sering kali muncul bukan karena kita gagal, tapi justru karena kita mulai berdampak. Saat kita biasa-biasa saja, nyaris tak ada yang peduli. Tapi saat kebaikan kita mulai terlihat, maka komentar negatif mulai muncul. Itu artinya, kita sedang menggoyang zona nyaman orang lain, dan itu adalah tanda bahwa apa yang kita lakukan bermakna.
Dalam sudut pandang ini, nyinyir bisa jadi alat ukur. Semakin nyinyir orang terhadap kita, semakin besar peluang kita untuk memberi dampak lebih luas. Maka jangan takut, teruslah berkarya. Bahkan, kita boleh bersyukur jika ada yang nyinyir, karena itu berarti kita diperhatikan, dan punya pengaruh.
Mari kita ajarkan pada peserta didik bahwa hidup bukan tentang menyenangkan semua orang. Bahwa setiap langkah menuju kebaikan selalu ada tantangan. Salah satunya adalah komentar sinis, pandangan merendahkan, atau cibiran tanpa dasar.
Namun, jika mereka paham nilai dari konsistensi, dari keteguhan niat, dan dari kerja keras, maka tak satu pun nyinyiran bisa mematahkan semangat mereka. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang mudah baper (bawa perasaan), tapi generasi yang tangguh menghadapi kenyataan.
Karena itu, kita sebagai pendidik harus menjadi contoh. Jangan ikut nyinyir, jangan ikut mematikan semangat orang lain, tapi mari kita jadi pendukung aktif semua kebaikan yang lahir di sekitar kita. Jadilah penopang, bukan penghalang. Jadilah penyemangat, bukan pengejek. Jadilah penebar kebaikan, meski di sekeliling kita hanya nyinyiran. Semakin mereka nyinyir, semakin kita asyik berkebaikan.
Yu, kita awali dengan menabur kebajika, abaikan nyinyiran.**
- Penulis, Doktor Ilmu Pendidikan, Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapis