Search
Close this search box.

VISI | Rakus

Bagikan :

Oleh Drajat

  • Guru
  • Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis
  • APKS PGRI Prov. Jabar 

Ada satu kata yang belakangan terasa semakin nyata dalam kehidupan berbangsa: rakus. Bukan sekadar ingin. Bukan sekadar butuh. Tetapi keinginan yang melampaui batas mengambil yang bukan haknya, menguasai yang bukan miliknya, dan melupakan bahwa semua itu hanyalah titipan.

Kita menyaksikan, dari pusat hingga daerah, betapa jabatan sering kali tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai kesempatan. Kesempatan untuk memperkaya diri. Kesempatan untuk menguatkan keluarga. Kesempatan untuk membangun jejaring kekuasaan. Dan yang lebih menyedihkan, semua itu sering dilakukan tanpa rasa malu.

Jabatan seharusnya adalah tanggung jawab. Ia adalah beban moral. Ia adalah kepercayaan rakyat. Ia adalah ruang untuk berbuat kebaikan. Namun ketika jabatan dipahami sebagai hak istimewa, maka yang terjadi adalah penyimpangan. Korupsi menjadi biasa. Nepotisme dianggap wajar. Manipulasi kebijakan menjadi strategi. Seolah-olah semua bisa diatur.
Seolah-olah tidak ada yang melihat. Padahal ada satu hal yang tidak pernah luput: catatan Tuhan.

Dalam hiruk pikuk kekuasaan, banyak yang lupa pada satu kepastian: kematian. Tidak ada jabatan yang dibawa. Tidak ada harta yang menemani. Tidak ada kekuasaan yang bisa dipertahankan. Yang tersisa hanyalah amal. Namun mengapa hal yang sederhana ini sering terlupakan? Mengapa begitu mudah manusia terjebak dalam ilusi bahwa dunia adalah segalanya?

Kerakusan tidak hanya berdampak pada hari ini. Ia meninggalkan jejak panjang. Kerusakan sistem. Ketidakadilan sosial. Kehilangan kepercayaan publik. Dan yang sering tidak disadari: dampaknya bisa kembali kepada keluarga sendiri. Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai. Jika hari ini seseorang membangun kekayaan dari cara yang tidak benar, maka bukan tidak mungkin generasi berikutnya akan menanggung akibatnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika kritik tidak lagi diterima. Lembaga diubah. Suara berbeda dibungkam. Kritik dianggap ancaman. Seolah-olah yang diinginkan bukan kebenaran, tetapi kenyamanan kekuasaan. Di titik ini, kita melihat gejala yang lebih dalam: bukan hanya mata yang tertutup, bukan hanya telinga yang tidak mau mendengar, tetapi juga hati yang mulai mengeras.

Baca Juga :  Demam Chelsea Meledak di Hanoi! Legenda Turun, Fans Membara

Sejarah selalu menunjukkan satu hal: di tengah kegelapan, selalu ada cahaya. Dan dalam konteks pendidikan, cahaya itu adalah guru. Guru tidak memiliki kekuasaan politik. Namun guru memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: pengaruh terhadap masa depan. Di ruang kelas, guru menanamkan nilai. Di tengah keterbatasan, guru membangun harapan.
Di balik tekanan sistem, guru tetap berusaha menjaga nurani.

Ketika dunia di luar penuh dengan contoh yang keliru, guru menjadi penyeimbang. Guru mengajarkan: kejujuran di tengah manipulasi, integritas di tengah kepentingan, serta tanggung jawab di tengah kelalaian

Dalam situasi seperti ini, pendidikan bukan sekadar proses belajar. Ia adalah jalan perlawanan. Perlawanan terhadap: kebodohan, ketidakjujuran, dan kerakusan. Namun perlawanan ini tidak dilakukan dengan amarah. Ia dilakukan dengan: kesabaran, keteladanan, dan konsistensi

Tidak mudah mengajarkan kejujuran ketika siswa melihat ketidakjujuran di sekitar mereka. Tidak mudah mengajarkan integritas ketika contoh yang mereka lihat justru sebaliknya. Namun justru di situlah peran guru menjadi sangat penting. Guru tidak boleh menyerah. Karena setiap nilai yang ditanam hari ini, mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Namun suatu hari nanti, nilai itu akan tumbuh.

Ketika banyak hal terasa tidak masuk akal, kita perlu menjaga satu hal: kewarasan. Waras dalam berpikir. Waras dalam bersikap. Waras dalam memandang kehidupan. Dan pendidikan adalah cara paling efektif untuk menjaga kewarasan itu.

Tulisan ini adalah pengingat. Bahwa kekuasaan tanpa integritas akan merusak. Bahwa kekayaan tanpa kejujuran akan menghancurkan. Bahwa jabatan tanpa amanah akan menjadi bumerang. Para pemimpin perlu kembali pada hakikatnya: bahwa mereka bukan pemilik negeri ini, melainkan penjaga sementara.

Di tengah segala dinamika yang ada, kita tidak boleh kehilangan harapan. Karena selama masih ada guru yang: mengajar dengan hati, mendidik dengan nilai, dan menjaga kejujuran.  Maka masa depan masih memiliki peluang.

Baca Juga :  Program Penjaringan Data Guru 2026 Resmi Dibuka Pemerintah

Kerakusan mungkin sedang menguasai sebagian ruang kekuasaan. Namun pendidikan tetap menjadi ruang harapan. Dan selama cahaya itu masih menyala, kita masih memiliki alasan untuk percaya: bahwa negeri ini masih bisa diselamatkan.***

Baca Berita Menarik Lainnya :