Search
Close this search box.

PKB Kumpulkan Kiai Ponpes di Jakarta, Apa Tujuannya?

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengumpulkan para kiai pondok pesantren dalam forum Temu Nasional Pondok Pesantren di Grand Mercure Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, pada (18-19/5/2026)./visi.news/tangkap layar akun Instagram @dpd_pkb.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengumpulkan para kiai pondok pesantren dalam forum Temu Nasional Pondok Pesantren di Grand Mercure Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, pada (18-19/5/2026).

Forum tersebut disebut bukan sekadar agenda politik, melainkan bagian dari upaya ‘membayar utang peradaban’ kepada pesantren dan para kiai di Indonesia.

Wakil Ketua Umum DPP PKB, Ida Fauziyah, mengatakan kontribusi pesantren terhadap pendidikan dan pembentukan karakter bangsa telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka. Karena itu, menurutnya, biaya besar yang dikeluarkan untuk menghadirkan para kiai tidak sebanding dengan jasa pesantren selama ratusan tahun.

“Banyak orang yang mengatakan, apa enggak sayang biaya yang tidak murah mendatangkan para kiai dan seterusnya? Apa tidak sayang dengan biaya yang dikeluarkan? Bapak/Ibu yang saya hormati, menurut kami, itu biaya yang murah,” kata Ida dalam penutupan Temu Nasional Pondok Pesantren, Selasa (19/5/2026).

“Dengan hanya menghadirkan itu biaya yang murah. Karena sesungguhnya kita ini sedang membayar utang peradaban terhadap pendirian pesantren di Indonesia,” jelas Ida melanjutkan.

Pernyataan tersebut menunjukkan upaya PKB menempatkan pesantren sebagai fondasi penting dalam pembangunan sosial dan pendidikan nasional. Ida menilai pesantren telah berkontribusi mencerdaskan masyarakat bahkan sebelum cita cita mencerdaskan kehidupan bangsa dirumuskan para pendiri negara.

“Jadi sesungguhnya Ibu/Bapak sekarang yang saya hormati, kita sedang mencicil pelan demi pelan, menjawab, membayar utang peradaban yang dilakukan oleh para kiai dengan pendirian pesantren,” tegasnya.

Dalam konteks politik, forum ini juga memperlihatkan upaya PKB menjaga kedekatan historis dengan kalangan pesantren yang selama ini menjadi basis sosial partai. Namun, Ida menegaskan dukungan terhadap pesantren tidak semata dilandasi kepentingan elektoral.

Ia menyinggung lahirnya Undang Undang Pesantren sebagai bentuk keberpihakan PKB terhadap dunia pesantren. Meski demikian, Ida mengakui munculnya sejumlah kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren menjadi tantangan serius yang mencoreng citra lembaga pendidikan tersebut.

Baca Juga :  Purbaya Bantah Kritik The Economist soal Ekonomi Indonesia

“Ketika kami belum lunas membayar utang peradaban terhadap para kiai, ternyata ada setitik noda yang menghalangi kami untuk terus konsisten membayar utang peradaban itu,” jelas Ida.

Meski ada persoalan tersebut, PKB memastikan komitmennya terhadap pesantren tidak berubah.

“Karena bagi PKB, jauh di atas kepentingan politik, adalah kepentingan membayar peradaban terhadap para kiai,” pungkas dia.

Baca Berita Menarik Lainnya :