Oleh Shally Novita dan Asteria Devy Kumalasari (360info)
- Universitas Padjadjaran
SELEBRITI Indonesia Brigitta “Gigi” Cyntia, anggota grup pop Cherrybelle, baru-baru ini mengungkapkan perjuangannya melawan kelainan makan, dan mendesak para penggemarnya untuk mencari bantuan profesional jika mereka menghadapi masalah serupa.
Pengakuan jujur ini menggarisbawahi kekhawatiran yang semakin besar di Indonesia: meningkatnya prevalensi masalah citra tubuh dan gangguan makan di kalangan generasi muda.
Penelitian menunjukkan bahwa 10 persen pelajar Indonesia berisiko mengalami gangguan makan, dengan 12 hingga 22 persen perempuan berusia 15 hingga 29 tahun melaporkan kesulitan dalam mengatur asupan makanan mereka.
Data terbaru dari sebuah penelitian kecil di Indonesia menunjukkan bahwa bahkan di antara mereka yang tidak terdiagnosis gangguan makan, 57,7 persen remaja di Tangerang, Indonesia melaporkan ketidakpuasan terhadap penampilan mereka.
Tren ini mencerminkan peningkatan gangguan makan secara global, yang meningkat dari 0,15 persen populasi dunia pada tahun 1990 menjadi 0,17 persen pada tahun 2019.
Implikasi dari gangguan ini sangat besar, mempengaruhi kesehatan fisik, kesejahteraan mental dan kepuasan hidup secara keseluruhan.
Pengaruh body image terhadap kesehatan remaja cukup besar. Mereka yang menjaga kebiasaan makan sehat dan melakukan aktivitas fisik yang sesuai cenderung lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Sebaliknya, mereka yang didorong oleh rasa takut akan bertambahnya berat badan mungkin melakukan pola makan yang tidak sehat dan olahraga berlebihan, sehingga membahayakan kesejahteraan mereka.
Persepsi citra tubuh dibentuk oleh berbagai faktor, termasuk pengaruh teman sebaya, paparan media, dan norma budaya.
Media sosial, khususnya, memainkan peran penting dalam mempromosikan standar kecantikan ideal.
Platform seperti Instagram memungkinkan pengguna membandingkan diri mereka dengan gambar ideal, yang sering kali diedit dengan sempurna. Perbandingan yang terus-menerus ini dapat menciptakan tekanan yang sangat besar untuk menyesuaikan diri dengan standar yang tidak realistis.
Di Indonesia, penggunaan media sosial tersebar luas, dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif.
Instagram sangat populer di kalangan anak muda karena menawarkan filter dan efek yang mudah digunakan untuk menyempurnakan gambar, sehingga membuat mereka mematuhi standar kecantikan yang tidak realistis.
Umpan balik positif, dalam bentuk suka dan komentar, memperkuat standar kecantikan masyarakat.
Untuk mencapai validasi serupa, individu sering kali melakukan berbagai strategi pengelolaan berat badan, mulai dari diet hingga rutinitas olahraga berat.
Pandemi COVID-19 juga memperburuk masalah citra tubuh, dengan meningkatnya penggunaan media sosial yang menyebabkan lebih seringnya melakukan perbandingan dengan sosok ideal.
Paparan gambar yang tampak sempurna secara terus-menerus dapat meningkatkan ketidakpuasan dan berdampak negatif pada harga diri. Tren ini menyoroti perlunya penggunaan media sosial yang bertanggung jawab dan penggambaran kecantikan yang realistis.
Banyak masyarakat Indonesia, terutama yang berada di luar perkotaan, kesulitan mengakses makanan sehat dan fasilitas olah raga.
Pola makan tradisional yang kaya akan makanan berkalori tinggi seperti santan dan minyak sawit dalam masakan Minang, Sunda, dan Jawa sangat populer dan mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Ditambah dengan tingginya biaya alternatif kesehatan dan layanan kebugaran, mencapai kecantikan ideal di media sosial sulit bagi banyak orang.
Status sosial ekonomi juga mempengaruhi masalah citra tubuh.
Berdasarkan studi longitudinal yang menggunakan data Survei Kehidupan Keluarga Indonesia, ketimpangan status sosial ekonomi akibat berat badan berlebih telah menurun secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Studi tersebut menunjukkan bahwa obesitas semakin banyak menimpa kelompok masyarakat miskin Indonesia.
Fenomena ini erat kaitannya dengan mahalnya harga makanan sehat, rendahnya harga makanan olahan, pola hidup menetap dan mahalnya kualitas fasilitas olah raga di Indonesia.
Konsekuensi dari ketidakpuasan terhadap tubuh sangat parah, menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Masalah ini mempengaruhi kedua jenis kelamin: meskipun wanita sering kali menginginkan tubuh langsing, pria menghadapi tekanan untuk tampil berotot dan atletis.
Dukungan orang tua dan teman sebaya memainkan peran penting dalam mengurangi tekanan-tekanan ini.
Penguatan positif dari keluarga dan teman dapat membantu meningkatkan harga diri fisik dan mengurangi perbedaan citra tubuh dalam beberapa konteks. Mendorong perspektif yang sehat dan seimbang mengenai citra tubuh sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan mental.
Mempromosikan citra tubuh yang sehat melibatkan pengakuan terhadap keragaman tipe tubuh dan fokus pada kesejahteraan secara keseluruhan dibandingkan standar yang tidak realistis. Inisiatif seperti Health at Every Size menganjurkan untuk menerima dan menghargai semua tipe tubuh, menekankan kesehatan dan kebahagiaan di atas penampilan.
Meningkatnya permasalahan body image di kalangan remaja Indonesia merupakan permasalahan kompleks yang dipengaruhi oleh media sosial, norma budaya, dan faktor sosial ekonomi. Untuk mengatasi masalah ini memerlukan pendekatan multifaset, termasuk lingkungan keluarga yang suportif, penggunaan media yang bertanggung jawab, dan perubahan menuju penilaian kesehatan dibandingkan estetika.
Jika artikel ini menimbulkan masalah bagi Anda, atau jika Anda mengkhawatirkan seseorang yang Anda kenal, kunjungi https://findahelpline.com/topics/eating-body-image atau hubungi penyedia layanan kesehatan setempat.
- Dr Shally Novita adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Minat penelitiannya meliputi pengembangan literasi dan numerasi, faktor lingkungan dalam kompetensi kognitif, dan permasalahan psikologis pada anak dan remaja.
- Dr Asteria Devy Kumalasari adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Kajian berbagai aspek kebahagiaan dan hubungan interpersonal menjadi topik penelitiannya. Dia juga seorang psikolog yang menangani remaja dan dewasa.