VISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Kebun Binatang Bandung tengah menghadapi masa transisi penting, menyusul proses lelang operator baru untuk pengelolaan selama 26 tahun ke depan. Di tengah perubahan ini, anggota tim ahli Kebun Binatang Bandung, Jatna Supriatna, menekankan pentingnya mengoptimalkan koleksi hewan lokal.
“Kita tidak membutuhkan hewan dari luar negeri, karena kita bisa membaca tentang mereka di buku atau melihatnya di televisi,” kata Jatna dalam keterangannya dikutip, Jumat (15/5/2026).
Menurut Jatna, fokus pada spesies Indonesia dapat menciptakan ekosistem yang lebih alami dan edukatif bagi pengunjung. Hal ini juga memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, yang menurut profesor konservasi dari Universitas Indonesia (UI) sangat melimpah.
“Agar masyarakat mengenal dan mencintai satwa liar Indonesia,” tambahnya.
Dari sisi konservasi dan edukasi, Jatna menilai kebun binatang modern harus lebih dari sekadar tempat melihat hewan. “Kebun binatang kini telah berubah, bukan lagi hanya tempat bagi kita untuk melihat hewan, tetapi untuk belajar tentang satwa liar.” Pernyataan ini menyoroti peran penting lembaga ex situ dalam menjaga satwa sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap konservasi.
Selain koleksi hewan, aspek fasilitas juga menjadi perhatian. Jatna menekankan, manajemen baru perlu merombak kandang sempit agar hewan tidak menderita dalam penangkaran. Tim ahli bertugas memberikan panduan teknis dan etis bagi operator baru agar pengelolaan sesuai standar konservasi dan edukasi.
Dari sisi ekonomi dan administrasi, Ade Rahmayadi, anggota Gugus Tugas Kerja Sama Pemanfaatan Aset Daerah, memaparkan bahwa operator baru akan membayar kontribusi tetap Rp138 miliar selama 26 tahun, dengan bagi hasil tahunan 10,96 persen.
“Dalam peraturan terkait tindak lanjut tender yang gagal, yaitu tender ulang, seleksi langsung, dan penunjukan langsung, setelah beberapa tahapan dilakukan,” jelas Ade.
Sistem lelang ini menekankan keseimbangan antara kapasitas finansial operator dan pengalaman mereka dalam pengelolaan kebun binatang.
Analisis konteks ini menunjukkan bahwa Kebun Binatang Bandung berada pada persimpangan antara konservasi, edukasi, dan bisnis. Keputusan fokus pada spesies lokal dapat menjadi keunggulan unik, sementara pemilihan operator baru dan investasi infrastruktur akan menentukan kualitas pengalaman pengunjung serta kesejahteraan satwa. @desi